Hari raya bukan hanya hari bahagia. Ia juga menjadi cermin: apakah Ramadhan benar-benar mengubah hati kita.
Takbir yang kita ucapkan seharusnya membuat kita sadar—betapa kecilnya diri di hadapan Allah.
Ramadhan telah berlalu. Namun yang terpenting bukan itu, melainkan apakah kita ikut berubah setelahnya.
Kembali kepada fitrah bukan berarti menjadi tanpa dosa, tetapi menjadi lebih jujur melihat diri di hadapan Allah.
Hari raya bukan kemenangan atas lapar dan haus, melainkan kemenangan ketika hati mulai tunduk kepada Allah.
Di hari ‘Id seorang mukmin tidak hanya bergembira, tetapi juga berharap agar Allah menerima amalnya.
Ramadhan mungkin telah pergi, tetapi semoga yang tersisa adalah hati yang lebih takut kepada Allah.
Kita saling berjumpa di hari raya. Namun yang lebih penting adalah berharap bertemu di Surga.
Hari raya mengingatkan bahwa semua amal kita tetap bergantung pada rahmat Allah.
Tidak ada yang lebih diharapkan di hari ini selain satu doa: semoga Allah menerima amal kita semua.
Hari raya mengajarkan syukur—bahwa Allah memberi kesempatan kepada kita beribadah selama Ramadhan.
Ramadhan boleh pergi dari kalender, tetapi jangan sampai ia pergi dari hati.
Amal yang kecil bisa menjadi besar ketika dilakukan dengan keikhlasan.
Ramadhan melembutkan hati. Hari raya seharusnya menjaga kelembutan itu tetap hidup.
Hari raya bukan sekadar tradisi, tetapi pengingat bahwa perjalanan hidup kita tetap menuju Allah.
‘Idul Fitri seperti halaman baru. Ia mengingatkan kita untuk memulai kembali dengan hati yang lebih bersih.
Seorang mukmin bergembira di hari raya, namun tetap menyimpan rasa takut: apakah amalnya diterima.
Hari raya mempertemukan banyak hati. Semoga pertemuan itu menguatkan persaudaraan karena Allah.
Jika Ramadhan melatih kita taat, maka hari raya menguji apakah kita mampu menjaga ketaatan itu.
Seorang mukmin tidak putus harapan. Di hari raya ia berharap Allah menerima amalnya dan mengampuni dosanya.
Perbanyak takbir sejak malam ‘Id sebagai bentuk syukur kepada Allah setelah Ramadhan.
Disunnahkan mandi sebelum berangkat shalat ‘Id sebagai bentuk memuliakan hari raya kaum muslimin.
Kenakan pakaian terbaik tanpa berlebihan sebagai tanda syukur atas nikmat Allah.
Laki-laki dianjurkan memakai wewangian ketika keluar menuju shalat ‘Id.
Pada ‘Idul Fitri disunnahkan makan terlebih dahulu sebelum berangkat ke shalat ‘Id.
Jika memungkinkan, berjalan kaki menuju tempat shalat ‘Id agar langkah menuju kebaikan semakin banyak.
Perbanyak takbir dari rumah hingga tiba di tempat shalat ‘Id sebagai bentuk mengagungkan Allah.
Shalat ‘Id disunnahkan dilaksanakan di lapangan sebagai syiar kaum muslimin.
Wanita juga dianjurkan menghadiri shalat ‘Id, bahkan yang sedang haid tetap hadir tanpa ikut shalat.
Disunnahkan mengambil jalan berbeda ketika pulang dari tempat shalat ‘Id.
Tidak Ada shalat sunnah sebelum dan sesudah shalat ‘Id di tempat shalat.
Para sahabat saling mengucapkan: “Taqabbalallahu minna wa minkum.” Semoga Allah menerima amal kami dan kalian.